PT. Madani Multi Kreasi
               
             

             

 

   

 

 

kkp.png

 

Pemodelan Konseptual Upwelling Terhadap Target Spesies


 

1.   Latar Belakang
Wilayah perairan laut yang terjadi upwelling merupakan fishing ground yang sangat potensial  karena kaya akan zat-zat hara dan nutrien. Kenaikan unsur-unsur hara dari dasar laut melalui proses upwellingsangat mendukung pertumbuhan plankton. Secara luas plankton dianggap sebagai salah satu organisme terpenting di dunia, karena menjadi bekal makanan untuk kehidupan akuatik.
Bagi kebanyakan makhluk laut, plankton adalah makanan utama mereka. Plankton terdiri dari sisa-sisa hewan dan tumbuhan laut. Beberapa makhluk laut yang memakan plankton adalah seperti batu karang, kerang, dan ikan paus. Plankton terbagi atas dua bagian yaitu fitoplankton dan zooplankton.Fitoplankton memperoleh energi melalui proses fotosintesis sehingga mereka harus berada pada bagian permukaan (zona euphotic) lautan. Melalui fotosintesis, fitoplankton menghasilkan banyak oksigen yang memenuhi atmosfer bumi.Kemampuan mereka untuk mensintesis sendiri bahan organiknya menjadikan mereka sebagai dasar dari sebagian besar rantai makanan di ekosistem lautan.
Upwellingmembawa konsekuensi menaikan nutrisi dari dasar laut ke permukaan, indikasinya adalah meningkatnya populasi ikan setelah terjadinya upwelling. Ikan tersebut berkumpul karena meningkatnya plankton dan hewan kecil yang memakan nutrisi tersebut, dan plankton serta hewan kecil tersebut merupakan makanan utama ikan-ikan yang lebih besar. Dengan demikian wilayah tersebut merupakan daerah penangkapan ikan yang subur.
Untuk memanfaatkan stok ikan tersebut secara berkelanjutan, maka persoalan yang harus diperhatikan adalah pemanfaatannya berdasarkan spesies ikan target. Untuk mencapai hal tersebut diperlukan data dan informasi  spesies ikan target dan jumlah potensi yang tersedia. Disamping itu penggunaan teknologi dan metode penangkapan yang ramah lingkunganjuga tak kalah pentinguntuk menjadi perhatian, dibutuhkan alat tangkap yang tingkat selektifitasnya tinggi untuk memanfaatkan target spesies ikan tersebut sehingga ikan yang berukuran kecil tidak ikut tertangkap dan tidak mengganggu populasi ikan lainnya.Jika pemanfaatannya tidak dilakukan secara baik dan benar sesuai instrumen yang ada, maka akan menyebabkan terjadinya kelebihan tangkap atau terputusnya rantai makanan.
2.   Pokok-pokok persoalanyang menjadi batasan dalam bahasan
Berdasarkan pokok persoalan yang teridentifikasi dalam makalah ini, maka diidentifikasi pokok persoalan yang menjadi uraian adalah sebagai berikut:Upwelling dan tingkat kesuburan perairan; Daerah penangkapan ikan; Upwelling dan spesies ikan target dan model  konseptual spesies  ikan target, dan teknologi penangkapan ikan di sekitar wilayah perairan terjadinya upwelling.

3.   Pemodelan konseptual upwelling terhadap target spesies ikan dan teknologi penangkapan ikan
3.1.   Upwelling dan tingkat kesuburan perairan
Upwelling(umbalan) pada suatu perairan akan meningkatkan tingkat kesuburan perairan. Proses ini terjadi karena terbentuknya suatu rantai makanan yang lengkap, ada produsen dan konsumen. Dukungan zat-zat hara (nutrien) dari dasar perairan dengan konsentrasi tinggi dan ditambah dukungan sinar matahari mempercepat laju pertumbuhan fitoplankton. Fitoplankton yang  merupakan tumbuhan hijau daun melakukan proses fotosintesis dengan dukungan zat-zat hara yang jumlahnya sangat besar menyebabkan melimpahnyafitoplankton disekitar perairan terjadinya upwelling.    
Selanjutnya produksi fitoplankton yang tinggi ini memicu produksi zooplankton yang tinggi pula, fitoplankton dan zooplankton berperan penting dalam mempertahankan produktivitas perairan yang tinggi.
Plankton pada suatu perairan yang terjadi upwelling harus teridentifikasi jenis dan jumlahnya terkait hubungan dengan jenis-jenis ikan yang akan datang dan berkumpul ditempat tersebut baik untuk memijah maupun mencari makanan. Pada perairan yang subur (upwelling) terbentuk rantai makanan yang lengkap, olehnya itu diperlukan pemanfaatan yang baik untuk menghindari terjadinya gangguan ekosistem. Pertumbuhan plankton yang tinggi yang tidak dibarengi pertumbuhan zooplankton akan mengakibatkan terjadinya pencemaran perairan yang biasa disebut blomming. Kondisi ini biasanya terjadi jika suatu rantai makanan salah satu organisme mengalami gangguan atau mendominasi.
Untuk mempertahankan kondisi upwelling tetap menjadi subur dan tidak menyebabkan kondisi yang ekstrim (blomming) bagi organisme,dalam rantai makanan tersebut, sedapat mungkin pemanfaatan daerah upwellingini dilakukan secara baik dan benar, keseimbangan lingkungan harus ditonjolkan. Pemanfaatan daerahupwelling tersebut tidak ada organisme yang mendominasi dalam rantai makanan tersebut terkecuali jika proses itu terjadi karena pengaruh alam.
Di perairan Indonesia dikenal ada tujuh lokasi upwelling, dan sebagian besar lokasi upwelling ini terletak diWallace area, yaitu suatu kawasan perairan yang dibatasi oleh garis Wallace di bagian barat dan garisLydekker di bagian timur. Daerah ini dikenal memiliki keanekaragaman jenis dan kelimpahan biota yang tinggi, beberapa jenis di antaranya bersifat unik dan endemik, yang merupakan sumbangan besar bagi keanekaragaman biota global. Selain Selat Makassar dan Laut Banda, upwelling juga terjadi di Laut Seram, Laut Maluku, Laut Arafura, dan perairan utara kepala burung dan perairan timur Papua. Satu-satunya lokasiupwelling di luar kawasan Wallace adalah di perairan selatan Jawa hingga Sumbawa (Sumber : www.kompas.com)
3.2.   Daerah penangkapan ikan
Daerah penangkapan ikan dimana terdapat upwelling merupakan suatu wilayah yang terbatas arealnya sehingga perlu dilakukan pemanfaatan secara bijaksana.Hal yang harus menjadi perhatian dalam pemanfaatan daerah penangkapan ikan  dimana terjadi upwelling tersebut yaitu 1) wilayah tersebut terdapat banyak ikan-ikan kecil dan ikan-ikan besar (calon induk) yang dapat terganggu akibat penangkapan ikan yang dilakukan oleh nelayan, 2) wilayah perairan dimana terjadi upwelling merupakan daerah penangkapan ikan yang subur sehingga banyak ikan dan banyak nelayan melakukan penangkapan. Kondisi ini dapat menyebabkan terjadinya konflik antar nelayan akibat persaingan.
Dengan mengacu pada dua hal tersebut maka pemanfaatan ruang di daerah penangkapan ikan(upwelling) perlu diketahui daya dukungnya (carrying capacity). Adapun daya dukung yang dimaksudkan adalah ketersediaan potensi ikan, luasan kawasan upwelling, jenis dan jumlah ikan (stok ikan) yang terdapat didalamnya.  Dengan pengaturan tersebut, maka daerah penangkapan ikan bukanlah tempat persaingan yang keras dalam hal ini persaingan dalam pemanfaatan sumberdaya perikanan dan penggunaan ruang yang seimbang antara luas daerah penangkapan ikan dengan jumlah dan jenis alat tangkap yang harus beroperasi di daerah penangkapan ikan upwelling tersebut. Jika itu tidak terjadi maka daerah penangkapan ikan upwelling akan terganggu, yang mengakibatkan stok ikan berkurang, disamping faktor sosial lainnya.
Persoalan yang banyak terjadi selama ini adalah terjadinya konflik antar nelayan dengan nelayan yang lain, penyebabnya adalah pemanfaatan ruang (daerah penangkapan ikan) yang tidak teratur dan luas daerah penangkapan ikan yang semakin sempit akibat terlalu banyaknya alat tangkap yang beroperasi sehingga terjadi gesekan antar nelayan pada waktu pengoperasian alat tangkap ikan. Hal lain yang sangat penting adalah timing (ketepatan atau ketidak tepatan) dalam ketersediaan pakan alami bagi larva ikan tersebut. Maka penangkapan ikan di daerah upwelling harus dipertimbangkan tentang kelestariannya karena penangkapan yang berlebihan (over fishing) akan merugikan secara ekonomi dan biologi.
3.3.   Upwelling dan spesies ikan target
Simbolong dan Tadjuddah, (2008) mengatakan bahwa daerah dimana upwelling terjadi biasanya akan membawa massa air yang suhunya lebih rendah, juga membawa zat hara sehingga kesuburan perairan tersebut akan meningkat. Kesuburan suatu perairan diharapkan akan meningkatkan kelimpahan sumberdaya hayati perairan tersebut. Pengetahuan tentang lokasi perairan dengan fenomena tersebut akan dapat membantu para nelayan untuk mencari lokasi daerah penangkapan ikan.
Meskipun daerah upwelling diakui sebagai tempat yang ideal untuk penangkapan ikan, namun daerah ini juga menjadi tempat peminjahan ikan yang potensial dan berkumpulnya ikan berukuran besar.  Ikan-ikan kecil harus diselamatkan dan ikan besar harus dimanfatkan secara optimal, oleh karena itu diperlukan dukungan data dan informasi spesies ikan target penangkapan. Data  yang  dibutuhkan adalah jenis ikan dan besarnya potensi lestari yang tersedia (MSY). Untuk memperoleh data tersebut diperlukan dukungan penelitian dengan berbagai pendekatan seperti menduga dengan metode sweap area dan berbagai pendekatan lainnya. Apabila data tersebut tersedia, maka informasi penggunaan teknologi dan metode penangkapan ikan dapat dilakukan. Berbagai teknologi dan metode penangkapan telah digunakan oleh nelayan, namun penggunaannya harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan potensi yang tersedia.
3.4.   Model   konseptual   spesies  ikan target, dan teknologi penangkapan ikan di perairan terjadinya upwelling
Hubungan upwelling, spesies ikan target dan penggunaan teknologi sangat  kuat.  Jenis plankton menentukan jenis jenis-ikan yang berkumpul di daerah penangkapan ikan yang terjadi upwelling sebagai suatu sistem dalam rantai makanan. Penggunaan teknologi dan metode penangkapan ikan harus disesuaikan dengan jenis ikan yang menjadi target penangkapan. Demikian kemampuan dan ketersediaan sumberdaya manusia. Setiap jenis teknologi penangkapan ikan memiliki spesies ikan target. Sebagai indikator yang sederhana adalah melihat jenis ikan yang paling dominan tertangkap pada suatu jenis alat tangkap ikan. Pada gambar dibawah ini disusun suatu pendekatan konseptual Pemodelan Upwelling terhadap spesies ikan target, teknologi  dan metode penangkapan ikan
Penggunaan teknologi penangkapan ikan dan metode penangkapannya dituntut adanya keramahan alat tersebut digunakan oleh nelayan. Simbolong, 2010 (bahan kuliah Pemodelan Daerah Penangkapan Ikan) menjelaskan bahwa untuk menjamin kelastarian daerah penangkapan ikan yang terjadi upwelling harus dilakukan uji selektifitas. Uji selektifitas yang dimaksudkan adalah menggunakan mata jaring dan pancing yang dapat menangkap ikan ukuran dewasa (spesies ikan target), sehingga seluruh ikan yang tertangkap memiliki nilai ekonomis tinggi dan sumberdaya berkelanjutan. Dengan melakukan uji selektifitas alat tangkap dari berbagai jenis alat tangkap tersebut ditetapkan alat tangkap yang terseleksi.
Dengan pendekatan konseptual pemodelan daerah penangkapan ikan di daerah upwelling dengan komponen utama spesies ikan target dan penggunaan jenis teknologi yang terseleksi, dan penggunaan alat bantu penangkapan ramah lingkungan akan berdampak pada keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya perikanan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat nelayan.


  Description: http://i275.photobucket.com/albums/jj314/malysant/Pemodelan2.jpg

Gambar 1. Pemodelan secara kontekstual (analitic) daerah penangkapan ikan (upwelling) terhadap spesies ikan target dan teknologi penangkapan ikan

 


DAFTAR PUSTAKA

Boyd, C.E., 1979. Water Quality In Warm Fish Pond. Auburn University. Agriculture Exp. Auburn.
Dahuri R., 1998.  Pembangunan Kawasan Pesisir dan Lautan, Tinjauan Aspek Ekologis dan Ekonomi. Makalah pada Diskusi  Agama dan Lingkungan, Kantor Menteri Lingkungan Hidup. Jakarta.

Fauzi, A.,  dan Anna, Suzy., 2005. Pemodelan Sumberdaya Perikanan dan Kelautan untuk Analisis Kebijakan. Penerbit PT. Gramdeia Pustaka Utama. Jakarta. Tahun 2005

Haryanti, 2006. Hubungan kelimpahan plankton terhadap hasil tangkapan ikan pelagis kecil di Perairan Kabupaten Selayar. Skripsi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan.

Pasengo, Y.L., 1995. Studi Dampak Limbah Pabrik Polywood Terhadap Kelimpahan dan Keanekaragaman Fitoplankton di Perairan Dangkang Desa Barowa Kecamatan Bua Kab. Luwu. Skripsi. Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan. Universitas Hasanuddin. Makassar. 

Nybakken, J.W., 1992. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Simbolon, D.F. dan Tadjuddah. T., 2008. Pendugaan Front dan upwelling melalui Interpretasi Citra suhu permukaan laut dan Clorofil-a di Perairan Wakatobi Sulewesi Tenggara. Bulletin PSP. Jurnal Ilmiah Teknologi dan Manajemen Perikanan Tangkap. Diterbitkan atas kerjasama Forum Komunikasi Kemitraan Perikanan Tangkap (FK2PT) dan Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. IPB Volume XVII.No.3 Hal.297-384. Desember 2008.

 
 
   
 

 

 
     
               
© mmk_archipelago