PT. Madani Multi Kreasi
               
             

             

 

   

 

 

kkp.png

 

PEMODELAN FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH PADA DINAMIKA SUMBERDAYA

DAN DINAMIKA DAERAH PENANGKAPAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus)

Description: http://www.ptmadanimultikreasi.com/templates/madani/script/timthumb.php?src=foto_berita/99rajungan.jpg&w=200&h=150


A.   Pendahuluan
Secara umum morfologi rajungan berbeda dengan kepiting bakau, di mana rajungan (Portunus pelagicus) memiliki bentuk tubuh yang lebih ramping dengan capit yang lebih panjang dan memiliki berbagai warna yang menarik pada karapasnya. Duri akhir pada kedua sisi karapas relatif lebih panjang dan lebih runcing. Rajungan hanya hidup pada lingkungan air laut dan tidak dapat hidup pada kondisi tanpa air. Dengan melihat warna dari karapas dan jumlah duri pada karapasnya, maka dengan mudah dapat dibedakan dengan kepiting bakau.Bila kepiting hidup di perairan payau, seperti di hutan bakau atau di pematang tambak, rajungan hidup di dalam laut.
Rajungan (Portunus pelagicus) di Indonesia merupakan komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi yang diekspor terutama ke negara Amerika, yaitu mencapai 60 % dari total hasil tangkapan rajungan, juga diekspor ke beberapa negara dalam bentuk segar yaitu ke Singapura dan Jepang, sedangkan dalam bentuk olahan (dalam kaleng) diekspor ke Belanda. Jika penangkapan dilakukan terus menerus untuk memenuhi permintaan konsumen secara kontinyu tanpa adanya suatu usaha pengaturan, maka sumberdaya hayati ikan dalam kurun waktu yang akan datang dapat mengalami kelebihan tangkapan dan berakibat menggangu kelestarian sumberdaya (Nessa, dkk, 1986).Sumberdaya ikan ini pada kenyataannya tidak tersebar merata di seluruh perairan Indonesia. Hal tersebut antara lain dikarenakan perbedaan kondisi lingkungan perairan dan perbedaan tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan di beberapa wilayah. Sumber daya ikan di beberapa wilayah telah mengalami degradasi, seperti di perairan Laut Jawa, Selat Makassar dan bahkan dikhawatirkan beberapa perairan lainnya akan mengalami hal yang sama. Dugaan ini terlihat dari gejala yang ditemukan antara lain kecilnya ukuran rajungan yang ditangkap, jumlah hasil tangkapan yang semakin berkurang, hasil penangkapan yang semakin tidak menentu serta mulai menghilangnya rajungan pada beberapa tempat di perairan pantai.
Penurunan potensi sumberdaya rajungan(Portunus pelagicus)di beberapa perairan yang mulai memprihatinkan tersebut dapat dihindari dengan memahami faktor-faktor internal dan eksternal yang berpengaruh pada dinamika sumberdaya rajungan dan dinamika daerah penangkapan rajungan. Disamping itu dengan perkembangan teknologi pembenihan kepiting rajungan dapat dilakukan restoking ke perairan, dari manajemen diperlukansuatu pengaturan pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya rajungan yang ada dengan menyusun suatu regulasi yang dapat memberikan batasan dalam pemanfaatan tersebut. Dan sebagai upaya tersebut dilaksanakan penyusunan model dinamika sumber daya rajungan dan dinamika daerah penangkapan (Portunus pelagicus).

B.    Faktor-faktor yang berpengaruh pada dinamika sumberdaya dan dinamika daerah penangkapan
Organisme ikan dan non ikan yang hidup dilaut, seperti rajungan (Portunus pelagicus) dalam siklus hidup dan perkembangannya memiliki faktor-faktor pendukung sebagai prasyarat hidup. Sebagai uraian lebih lanjut ada 2 hal yang akan diuraikan sehubungan hal-hal tersebut diatas antara lain:
a.    Faktor Internal
1.    Natalitas (kelahiran)
Dalam proses perkembangbiakan rajungan (Portunus pelagicus) memilikifase-fase dalam siklus hidupnya. Fase reproduksi rajungan terjadi di luar tubuh, walaupun sebagian rajungan meletakkan telur-telurnya pada tubuh sang betina. rajungan betina biasanya segera melepaskan telur sesaat setelah kawin, tetapi sang betina memiliki kemampuan untuk menyimpan sperma sang jantan hingga beberapa bulan lamanya, telur yang akan dibuahi selanjutnya dimasukkan pada tempat (bagian tubuh) penyimpanan sperma. Setelah telur dibuahi telur-telur ini akan ditempatkan pada bagian bawah perut (abdomen).  Jumlah telur yang dibawa tergantung pada ukuran kepiting. Beberapa spesies dapat membawa puluhan hingga ribuan telur ketika terjadi pemijahan. Telur ini akan menetas setelah beberapa hari kemudian menjadi larva (individu baru) yang dikenal dengan “zoea”. Ketika melepaskan zoea ke perairan, sang induk menggerak-gerakkan perutnya untuk membantu zoea agar dapat dengan mudah lepas dari abdomen. Larva kepiting selanjutnya hidup sebagai plankton dan melakukan moulting beberapa kali hingga mencapai ukuran tertentu agar dapat tinggal di dasar perairan sebagai hewan dasar (Prianto, 2007).

Untuk mengetahui kemampuan individu dalam menghasilkan keturunan (larva/anak) dapat dilihat dari jumlah telur yang dihasilkan oleh individu betina dalam suatu pemijahan. Menurut Tuwo dan Tresnati (1995), perhitungan fekunditas umumnya dilakukan dengan mengestimasi jumlah telur yang ada di dalam ovarium pada organisme matang gonad. Sakai dkk. (1983) mengemukakan bahwa jumlah telur yang dihasilkan oleh kepiting rajungan bervariasi tergantung besarnya individu. Untuk kepiting yang panjang karapasnya 140 mm dapat menghasilkan 800.000 butir, sedangkan yang panjang karapasnya 160 mm dapat menghasilkan 2.000.000 dan individu dengan panjang karapas 220 mm menghasilkan 4.000.000 butir (Sakai dkk., 1983).
Daur hidup kepiting meliputi telur, larva (zoea dan megalopa), post larva atau juvenil, anakan dan dewasa. Perkembangan embrio dalam telur mengalami 9 fase (Juwana, 2004). Larva yang baru ditetaskan (tahap zoea) bentuknya lebih mirip udang dari pada rajungan. Di kepala terdapat semacam tanduk yang memanjang, matanya besar dan di ujung kaki-kakinya terdapat rambut-rambut. Tahap zoae ini juga terdiri dari 4 tingkat untuk kemudian berubah ke tahap megalopa dengan bentuk yang lain lagi. Larva kepiting berenang dan terbawa arus serta hidup sebagai plankton (Nontji, 2002). Pada fase kelahiran (zoea) rajungan sangat rentan terhadap kematian seperti terperangkap pada alat tangkap sero waring, dan bagan tancap yang dioperasikan  nelayan disekitar pantai.

2.Spawner
Umur spawner sangat menentukan produksi telur. Demikian juga genitik-genetik dari larva-larva yang dihasilkan akan semakin menurun kualitasnya  Dibeberapa tempat spawner mengalami penurunan ukuran karena intensitas pemanfaatan rajungan sangat tinggi dan tidak terkendali.Spesies kunci (keystone species) adalah suatu spesies yang menentukan kelulushidupan sejumlah spesies lain. Dengan kata lain spesies kunci adalah spesies yang keberadaannya menyumbangkan suatu keragaman hidup dan kepunahannya secara konsekuen menimbulkan kepunahan bentuk kehidupan lain (Power & Mills, 1995 dalam Prianto, 2007).
Berdasarkan Toro dkk, (1990) komposisi TKG, hampir setiap bulannya ditemukan TKG I-TKG IV dan beragam baik jantan dan betina. Sedangkan pada rajungan betina setiap bulannya ditemukan TKG V. Hal ini memperlihatkan bahwa proses pemijahan rajungan berlangsung terus menerus (sepanjang tahun). Tingkat kematangan gonad paling tinggi pada rajungan jantan terdapat di bulan Februari dan April serta terendah pada bulan September dan Juni.Sedangkan pada rajungan betina komposisi TKG matang paling banyak di bulan Februari dan Agustus serta terendah di bulan Juni, Oktober, November dan Desember. Selanjutnya dijelaskan bahwa berdasarkan indeks kematangan gonad, nilai IKG yang diperoleh selama penelitian rajungan jantan dan betina masing-masing berkisar antara 0,57-5,59% dan 0,35-5,63%. Nilai TKG yang tinggi ditemukan pada bulan Februari sampai bulan Oktober baik pada rajungan jantan maupun betina sehingga diduga merupakan musim pemijahannya.Nilai IKG tertinggi di bulan Juni, hal ini diduga sebagai puncak pemijahan.

3.    Tingkah laku
Berbagai tingkah laku pada rajungan dengan tujuan mempertahankan kelangsungan hidupnya. Rajungan adalah perenang aktif, tetapi saat tidak aktif, mereka mengubur diri dalam sedimen menyisakan mata, antena di permukaan dasar laut dan ruang insang terbuka (FishSA, 2001).Selanjutnya Muslim (2000) mengungkapkan pada umumnya udang dan kepiting berkeliaran pada waktu malam untuk mencari makan.Binatang ini keluar dari tempat-tempat persembunyiannya dan bergerak menuju tempat-tempat yang banyak mengandung makanan.
Susilo (1993) menyebutkan bahwa perbedaan fase bulan memberikan pengaruh yang nyata terhadap tingkah laku rajungan, yaitu ruaya dan makan.Pada fase bulan gelap, rajungan tidak melakukan aktifitas ruaya, dan berkurangnya aktifitas pemangsaan.Hal tersebut ditunjukkan dengan perbedaan jumlah hasil tangkapan antara fase bulan gelap dan bulan terang.Rajungan cenderung lebih banyak tertangkap saat fase bulan terang dibandingkan pada fase bulan gelap.Oleh sebab itu waktu yang paling baik untuk menangkap binatang tersebut ialah malam hari saat fase bulan terang.
Tingkah laku betina keluar dari pasir dan melihat sekitar saat sore hari sebelum memijah, adalah awal dari proses dimana kunci waktu penetasan telur untuk periode saat tingkah laku aktifitas makan dari zoea memungkinkan mereka untuk makan dengan sukses. Telur dan larva rajungan adalah planktonik.Telur menetas setelah 15 hari pada suhu 24 derajat celcius.Fase larva meliput 5 tahap.Selama fase larva, kepiting dapat terbawa hanyut sejauh 80 km menuju laut sebelum kembali untuk tinggal di perairan pantai dangkal (Williams (1982) dikutip oleh Kangas (2000)). Pada fase zoea IV larva mengalami kritis oleh karena bentuk dan ukuran badan masih sulit menyesuaikan ketersediaan makanan dari alam.
Rajungan memang tergolong hewan yang bermukim di dasar laut, tetapi malam hari suka naik ke permukaan untuk cari makan, oleh karena itu rajungan disebut juga “swimming crab” alias kepiting yang bisa berenang.
4.    Molting
Molting adalah merupakan fase dalam siklus hidup rajungan (Portunus pelagicus) mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Pada fase ini rajungan yang telah mengalami molting mengalami pergantian karapas, yang mengindikasikan bahwa rajungan mengalami pertambahan ukurankarapas. Proses molting rajungan sangat rawan dari serangan predator yang ada disekitarnya.
Dedy Tri Hermanto, 2003 melakukanpenelitian tentang pertumbuhan dan reproduksi rajungan yang sangat diperlukan untuk mengetahui laju pertumbuhan rajungan sehingga dapat diperkirakan pertambahan populasi rajungan dalam jangka waktu tertentu serta untuk mengetahui tingkat rekruitmen populasinya,dengan demikianhal ini dapat dijadikan dasar dalam rangka perlindungan dan pengelolaan sumberdaya hayati rajungan di Perairan Mayangan. selanjutnya ditemukan rajungan yang sedang molting dan yang tidak molting baik pada jantan maupun betina. Pada rajungan jantan yang tidak molting maupun yang sedang molting berdasarkan hubungan panjang karapas dan berat tubuh maupun hubungan lebar karapas dan berat tubuh didapatkan pola pertumbuhan allometrik positif (b>3).Pada rajungan betina didapatkan hanya pada hubungan lebar karapas dengan berat tubuh rajungan yang tidak molting yang memiliki pola pertumbuhan allometrik positif (b>3). Sedangkan pada hubungan panjang karapas dengan berat tubuh baik yang tidak molting maupun yang sedang molting dan hubungan lebar karapas dengan berat tubuh yang sedang molting pada rajungan betina didapatkan pola pertumbuhan allometrik negatif (b<3).
b.    Faktor Eksternal
1.     Predator
Dari penelitian pembenihan diketahui bahwa tingkat kematian benih rajungan banyak terjadi pada saat larva yaitu dari stadia zoea IV ke stadia megalopa.Dalam skala laboratorium pemberian pakan tunggal berupa rotifera pada pemeliharaan larva rajungan dapat menghasilkan sintasan sebesar 5,8% (Panggabean et al., 1982), dan pemberian naupli artemia dapat menghasilkan sintasan sebesar 10% (Yatsuzuka & Sakai, 1980).Berdasarkan uraian tersebut menunjukkan bahwa pada stadia zoea IV ke stadia megalopa merupakan stadia dimana larva rajungan sebagai zooplankton, sehingga merupakan makanan target bagi berbagai jenis-jenis ikan yang ada di sekitar perairan tersebut. Akibatnya larva-larva tersebut tidak sampai di daerah asuhan disekitar pantai.
2.     Biologi, fisika, kimia oseanografi
Perairan yang telah banyak mengandung nutrien/hara merupakan salah satu indikasi bahwa perairan tersebut subur. Suatu perairan yang subur mendukung pertumbuhan plankton.  Di perairan pantai merupakan salah satu wilayah perairan yang subur  dimana di wilayah ini terakumulasi  berbagai jenis-jenis nutrien baik yang berasal dari daratan, sungai maupun dari arah laut. Rajungan merupakan salah satu crustacea  yang memakan fitoplankton  pada usia larva dan memasuki fase berikutnya memakan zooplankton.  Pada saatrajungan dewasa adalah hewan pemakan daging danmalam hari mencari mangsa hewan-hewan kecil di dasar laut atau di lapisan dekat permukaan laut yg berenang-renang berupa plankton hewan atau bukan.
Meningkatkan distribusi oksigen dalam tanah, lubang yang dibangun berbagai jenis kepiting mempunyai beberapa fungsi diantaranya sebagai tempat perlindungan dari predator, tempat berkembang biak dan bantuan dalam mencari makan. Disamping itu, lubang-lubang tersebut berfungsi untuk komunikasi antar vegetasi misalnya mangrove, yaitu dengan melewatkan oksigen yang masuk ke substrat yang lebih dalam sehingga dapat memperbaiki kondisi anoksik.
Membantu daur hidup karbon dalam daur hidup karbon, unsur karbon bergerak masuk dan keluar melewati organisme. Rajungan dalam hal ini sangat penting dalam konversi nutrien dan mineralisasi yang merupakan jalur biogeokimia karbon, selain dalam proses respirasinya.
3.     Habitat perairan
Rajungan (Portunus pelagicus) merupakan fauna yang habitat dan penyebarannya terdapat di perairan laut. Jenis-jenisnya sangat beragam dan dapat hidup di berbagai kolom di setiap perairan. Rajungan (Portunus pelagicus)merupakan fauna yang aktif mencari makan di malam hari (nocturnal) (Prianto, 2007). Rajungan(Portunus sp)dan kepiting lainnya pada fase larva (zoea dan megalopa) hidup di dalam air sebagai plankton. Rajungan (Portunus sp)dan kepiting tergolong dalam satu suku (familia) yakni portunidae dan seksi (sectio)brachyura. Cukup banyak jenis yang termasuk dalam suku ini. Dr. kasim Moosa yang banyak menggeluti taksonomi kelompok ini mengemukakan bahwa di Indo-Pasifik Barat saja diperkirakan ada 234 jenis, dan di Indonesia ada 124 jenis. Di Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu diperkirakan ada 46 jenis. Tetapi dari sekian jenis ini, hanya ada beberapa saja yang banyak dikenal orang karena biasa dimakan, dan tentu saja berukuran agak besar. Jenis yang tubuhnya berukuran kurang dari 6 cm tidak lazim dimakan karena terlalu kecil dan hampir tidak mempunyai daging yang berarti. Beberapa jenis yang dapat dimakan ternyata juga dapat menimbulkan keracunan (Nontji, 2002).
Konsentrasi maksimum kepiting terjadi pada malam hari pada saat air pasang. Kebanyakan kepiting memanjat akar mangrove dan pohon untuk mencari makan. Pada saat siang hari, waktu pasang terendah kebanyakan kepiting tinggal di dalam lubang untuk berlindung dari serangan burung dan predator lainnya. Beberapa spesies seperti Sesarma erythrodactyla dan Paragrapsus laevis pada saat air surut, turun ke bawah untuk berasosiasi dengan telur-telur ikan.
Rajungan hanya hidup pada lingkungan air laut dan tidak dapat hidup pada kondisi tanpa air.Rajungan(swimming crab) memiiki tempat hidup yang berbeda dengan jenis kepiting pada umumnya seperti kepiting bakau (Scylla serrata), tetapi memiliki tingkah laku yang hampir sama dengan kepiting. Coleman (1991) melaporkan bahwa rajungan (Portunus pelagicus) merupakan jenis kepiting perenang yang juga mendiami dasar lumpur berpasir sebagai tempat berlindung.Jenis rajungan ini banyak terdapat pada lautan Indo-Pasifik dan India. Sementara itu informasi dari panti benih rajungan milik swasta menyebutkan bahwa tempat penangkapan rajungan terdapat di daerah Gilimanuk (pantai utara Bali), Pengambengan (pantai selatan Bali), Muncar (pantai selatan Jawa Timur), Pasuruan (pantai utara Jawa Timur), daerah Lampung, daerah Medan, Sulawesi Selatan dan daerah Kalimantan Barat.
Moosa (1980) memberikan informasi bahwa habitat rajungan adalah pada pantai bersubstrat pasir, pasir berlumpur, dan di pulau berkarang, juga berenang dari dekat permukaan laut (sekitar 1 m) sampai kedalaman 56 meter. Rajungan hidup di daerah estuaria kemudian bermigrasi ke perairan yang bersalinitas lebih tinggi untuk menetaskan telurnya, dan setelah mencapai rajungan muda akan kembali ke estuaria (Nybakken, 1986).
Rajungan banyak menghabiskan hidupnya dengan membenamkan tubuhnya di permukaan pasir dan hanya menonjolkan matanya untuk menunggu ikan dan jenis invertebrata lainnya yang mencoba mendekati untuk diserang atau dimangsa.
4.     Musim
Musim sangat mempengaruhi rajungan untuk pemijahan.  Menurut Toro, 1981 musim pemijahan rajungan terjadi sepanjang tahun dengan puncaknya terjadi pada musim barat di bulan Desember, musim peralihan pertama di bulan Maret, musim Timur di bulan Juli, dan musim peralihan kedua di bulan September (Toro, 1981).Induk rajungan yang mengandung telur banyak terdapat pada bulan Maret sampai Mei dan pada bulan Juni sampai Agustus.
5.     Restoking
Perkembangan ilmu dan teknologi dalam perikanan dan kelautan menghasilkan berbagai temuan termasuk hasil penelitian pembenihan rajungan (Portunus pelagicus).Hasil penelitian banyak dilaporkan keberhasilan pembenihan rajungan jenis Portunus pelagicus (Juwana, 2002). Sementara Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut, Gondol Bali tahun 2003 telah melakukan penelitian pembenihan rajungan (Portunus pelagicus)  untuk mengantisipasi keperluan benih rajungan dalam rangka meningkatkan keberhasilan budi daya rajungan di tambak, dan sekaligus untuk memenuhi permintaan ekspor rajungan.
Dengan keberhasilan pembenihan tersebut diharapkan dapat menjaga stabilitas rajungan di alam dengan melakukan restoking kedalam perairan. Ukuran yang dapat direstoking adalah pasca stadium zoea IV karena dianggap telah melewati masa kritis dalam siklus hidup rajungan.
C.    Regulasi pemanfaatan sumberdaya rajungan (Portunus pelagicus)
Regulasi merupakan salah satu hal yang sangat dibutuhkan dalam pemanfaatan daerah penangkapan rajungan. Regulasi ini diharapkan sebagai rambu-rambu, bagi setiap stakeholder yang terkait, tidak melakukan kesewenang-wenangan didalam pemanfaatan sumberdaya,sehingga sumberdaya rajungan terjamin keberlanjutannya.
Jika suatu regulasi dibuat dan mampu diterapkan oleh pihak yang terkait maka penjaminan akses pemanfaatan sumberdaya hayati perikanan berbasis keberlanjutan dapat dicapai. Ada beberapa hal yang perlu diatur dalam regulasi tersebut antara lain:Ukuran rajunganyang dapat ditangkap, oleh berbagai jenis alat tangkap yang dioperasikan  oleh nelayan dilokasi penelitian.

  1. Pengaturan musim/waktu tertentu (closed season) dapat dilakukan penangkapan rajungan.
  2. Pengaturan daerah penangkapan ikan (closed area)
  3. Alat penangkap ikan yang memiliki ukuran  mata  jaring 
  4. Pembatasan   volume  rajungan   yang boleh ditangkap berdasarkan potensi MSY yang tersedia.
  5. Pembetukan kawasan konservasi perairan (misalnya DPL) yang pengelolaannya dilakukan oleh masyarakat setempat dan regulasinya dibuat sendiri oleh masyarakat.
D.   Pemodelan dinamika sumberdaya dan daerah penangkapan rajungan (Portunus pelagicus)
Dinamika suatu sumberdaya rajungan (Portunus pelagicus)sangat ditentukan oleh seluruh parameter input maupun output yang terkait didalamnya. Sebagaimana yang telah diuraikan pada gambar  berikut ini bahwa populasi rajungan akan mengalami dinamika jika dukungan internal maupun eksternal mengalami gangguan. Seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa paramater faktor internal yang mempengaruhi rajungan diidentifikasi pada beberapa hal pokok meliputi natalitas (kelahiran) populasi rajungan, ketersediaan induk rajungan yang berkualitas atau sebaliknya, tingkah laku rajungan itu sendiri dan proses perkembangan ukuran dari pada rajungan yang disebut molting.
Pada spesies rajungan yang mempengaruhi dinamika sumberdaya rajungan dan akan berpengaruh terhadap dinamika daerah penangkapan rajungan adalah bentuk fisik larva rajungan pada stadium I - IV dimana makanan cadangan yang terbawa sudah habis sangat sulit menyesuaikan jenis dan ukuran makanan yang sesuai untuk dimakan sehingga dapat menyebabkan terjadinya kematian. Apalagi rajungan pada saat stadium I-IV bersifat planktonik sehingga sangat mudah pula dimangsa oleh predator.
Dalam siklus pertumbuhan rajungan setiap penambahan ukuran, mengalami pergantian karapas (molting) dimana pada saat itu kondisi fisik rajungan sangat lemah dan kebanyakan hanya diam didasar perairan. Dalam beberapa referensi dikatakan bahwa sepanjang tahun rajungan sangat sering mengalami molting. Ini sangat memudahkan bagi predator untuk memangsa rajungan tersebut, termasuk spesies kepiting bakau adalah predator yang produktif (karnivora).
Jika mengacu pada hukum alam bahwa faktor internal yang berpengaruh pada spesies rajungan adalah merupakan suatu siklus hidupnya,maka diharapkan keseimbangan terjadi dari  dukungan yang positif faktor eksternal.  Hasil identifikasi faktor-faktor eksternal yang terkait sumberdaya rajungan yang dapat mempengarahui dinamika sumberdaya dan daerah penangkapan rajungan adalah predator, aspek oseanografi (biologi, fiska, dan kimia),habitat rajungan, musim dan keterkaitannya dengan ekosistem pesisir dan laut. Antara faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi dinamika sumberdaya dan daerah penangkapan rajungan sangat ditentukan oleh besarnya rekruitment yang terjadi baik jumlah maupun ukuran populasi, seleksi alam karena kematian alami, proses migrasi (menuju wilayah pemijahan, ke wilayah perairan asuhan dan wilayah pembesaran) yang terjadi, kelimpahan populasi karena proses rekruitment berlangsung dengan baik dan penangkapan.Demikian juga  pertumbuhan akan memberikan input yang baik terhadap dinamika sumberdaya rajungan bilamana  proses alami faktor internal populasi rajungan berjalan dengan baik dan didukung faktor eksternal akan memberikan pengaruh positif terhadap dinamika daerah penangkapan ikan rajungan.
Dalam pemodelan ini dibuat suatu asumsi bahwa pertumbuhan populasi rajungan dan penangkapannya harus ada keseimbangan. Penangkapan akan mempengaruhi faktor internal yang berupa calon-calon spawner yang berkualitas yang tidak tertangkap, bukan sebaliknya yang terjadi, spawner rajungan bukan berasal dari induk yang mencapai umur dewasa tetapi karena bentukan lingkungan. 
Kondisi sekarang ini banyak terjadi kerusakan di wilayah pesisir khususnya ekosistem mangrove, estuaria, lamun dan lain-lain sangat tidak mendukung secara maksimal perkembangan siklus hidup daripada rajungan, sehingga diperlukan adanya dukungan introduksi teknologi dalam bentuk pembenihan rajungan untuk selanjutnya dilakukan restoking. Seperti yang diuraikan diatas bahwa stadium zoea IV sangat kritis olehnya itu diharapkan ukuran restoking yang memungkinkan adalah ukuran pasca zoea IV (perlu penelitian lebih detail).
Dalam pemodelan faktor-faktor yang mempengaruhi sumberdaya dan daerah penangkapan rajungan(Portunus pelagicus), disamping faktor yang diuraikan sebelumnya, diperlukan pula adanya suaturegulasi/peraturan perundang-undangan yang dibuat. Model regulasi yang dimaksudkan diharapkan dapat mengatur pemanfaatan rajungan di daerah penangkapan dengan harapan untuk memberikan proteksi dalam pengelolaan sumbedaya rajungan sehingga setiap orang baik individu maupun kelompok  tidak melakukan tindakan-tindakan yang dapat membahayakan kelestarian sumberdaya, tetapi juga mengatur manusianya.  Pada gambar diuraikan pemodelan faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi dinamika sumberdaya rajungan dan daerah penangkapan ikan:

Description: http://i275.photobucket.com/albums/jj314/malysant/Pemodelan.jpg
Gambar 1.    Pemodelan Faktor-faktor yang mempengaruhi Dinamika Sumberdaya  dan Dinamika  Daerah Penangkapan Rajungan (Portunus pelagicus)

 

 

 

DAFTAR  PUSTAKA


class="text">Adam, 2005. Uji Kepekaan Model Numerik Perairan Pantai (In-shore) dan Lepas Pantai (Off-shore) pada Perikanan Rajungan (Portunus pelagicus) di Perairan Selat Makassar”.Tesis, PPS IPB. Bogor
Anonim. 2007. Pengamatan Aspek Biologi Rajungan dalam Menunjang Teknik Perbenihannya, (Online), (http://www.utkampus.net, diakses 1 Mei 2008)
Davey, K. 2000. Decapod Crabs Reproduction and Development, (Online), (http://www.mesa.edu.au, diakses 1 Mei 2008).
DPI & F. 2003.Fish Guide. Saltwater, Freshwater and Noxious Species, (Online), The Great Outdoors Publications, Brisbane, (www2.dpi.qld.gov.au, diakses 13 Mei 2008).
DPI & F. 2005.Fisheries Long Term Monitoring Program Sampling Protocol Mud Crab: (2000 – 2005), (Online), Department of Primary Industries and Fisheries, (http://www2.dpi.qld.gov.au, diakses 14 Mei 2008).
Dedy Tri Hermanto,2003. Studi Pertumbuhan dan Beberapa Aspek Reproduksi Rajungan (Portunus pelagicus) di Perairan Mayangan, Kabupaten Subang, Jawa Barat (Dibawah bimbingan Etty Riani dan Sulistiono).
Hsieh, H.L. 2004.Towards Wetland Restoration for the "Wetland Three Musketeers”, A Horseshoe Crab, A Fiddler Crab, and A Coconut Crab, (Online), Research Center for Biodiversity, Academia Sinica, Taipei, (biodiv.sinica.edu.tw, diakses 14 Mei 2008).
Irmawati. 2005. Keanekaragaman Jenis Kepiting Bakau Scylla sp Di Kawasan Mangrove Sungai Keera Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan, Lembaga Penelitian UNHAS(Online), (http://www.unhas.ac.id, diakses 30 April 2008).
Juwana,  S. 2004. Penelitian Budi Daya Rajungan dan Kepiting: Pengalaman Laboratorium dan lapangan,Prosiding Simposium Interaksi Daratan dan Lautan.Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta.
MacKinnon, K., Hatta, G., Halim, H. & Mangalik, A. 2000. Ekologi Kalimantan. Prenhallindo. Jakarta.
Nontji, A. 2002. Laut Nusantara.Penerbit Djambatan. Jakarta.
Prianto, E. 2007.Peran Kepiting Sebagai Spesies Kunci (Keystone Spesies) pada Ekosistem Mangrove.Prosiding Forum Perairan Umum Indonesia IV.Balai Riset Perikanan Perairan Umum. Banyuasin.
Rahmawaty. 2006. Upaya Pelestarian Mangrove Berdasarkan Pendekatan Masyarakat (Online)Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan, (http://library usu.ac.id, diakses 2 April 2008).
Sara, L. dkk.2006. Abundance and Distribution Patterns of Scylla spp. Larvae in the Lawele Bay, Southeast Sulawesi, Indonesia, Asian Fisheries Science, (Online),Vol. 19; 331-347, (www.asianfisheriessociety.org, diakses 1 Mei 2008).
Toro,.A.V,.Pulungsari., A.E dan Sukardjo S., 1989. Aspek ekologi rajungan niaga,portunus pelagicus linnaeus di perairan muarasungai Adiraja, Adipala, Cilacap. Puslitbang Oseanologi. LIPI. Jakarta
Umar, N.A. 2002. Hubungan antara Kelimpahan Fitoplankton dan Zooplankton (Kopepoda) dengan Larva Kepiting di Perairan Teluk Siddo Kabupaten Barru Sulawesi Selatan, (Online), IPB.

 
 
 
   
 

 

 
     
               
© mmk_archipelago